>Kesan Pertama di Kota Calang

Posted: November 24, 2005 by checkmad in Blog
Tag:

>

24 Nopember 2005, pertama kalinya aku ke Calang setelah bencana alam gempa bumi dan Tsunami yang telah menewaskan ratusan ribu warga Nangroe Aceh Darussalam. Dalam bayangan ku kondisi calang sampai saat ini begitu memperihatinkan dan pembangunan sepertinya masih jauh dari apa yang diharapkan, Fasilitas masyarakat kemungkinan masih sekedar ada seperti pasar, tempat pengobatan, kantor administrasi pemerintahan dan lain-lain.
Ternyata apa yang aku bayangkan semula merupakan bayangan yang berbeda setibanya aku di kota calang. Calang yang dulunya sedang membangun dirinya untuk maju namun luluh lantak diterpa gelombang tsunami masih tampak berseri dan semakin menawan saat ini. Aktivitas masyrakat tampak kembali normal, roda pemerintahan sudah kembali berjalan walu dengan fasilitas tidak seperti yang diharapkan.
Calang dengan segala keterbatasannya kembali bebenah diri, tak ingin kalah dengan cantiknya Kota Banda Aceh kini. Calang ibaratkan seorang gadis manis yang mulai beranjak dewasa, dengan segala keluguannya mulai mengerti bagaimana memoles diri agar tampak cantik dan menawan.
Calang kini bangkit kembali mencoba menggapai kembali kejayaanya sebagai Ibukota Aceh Jaya. Tampak wajah kota yang tertata apik dan rapi dengan bagunan-bangunan yang berwarna putih dilapisi oleh dinding-dinding papan menambah keseragaman dari penataan kota ini sendiri. Terlihat jelas keseragaman dari semua kantor administrasi pemerintahan, tan pa memiliki perbedaan jenis bangunan semuanya hanya berdindingkan kayu dan beratap seng dilapisi oleh polesan putih untuk membuktikan jati dirinya.
Ironis memang, saat Kota Banda Aceh Dengan bangunan-bangunan beton dan gedung yang dialasi keramik dan fasilitas yang begitu sempurna, ternyata bukan sebuah rasa rendah diri bagi pegawai Pemda di calang untuk berkantor dengan bangunan yang terbuat dari papan. Tapi, tak hanya Kantor pemerintahan saja yang terbuat dari papan, NgO yang berada dicalang pun tak mau kalah untuk ikut menyeragamkan bangunan dikota Calang, mereka pun membangun kantor dengan bahan dari kayu yang sama.
Calang yang dulu pun kini kembali bisa tersenyum. Daerah yang terputus hubungan daratnya dengan kota Banda Aceh ternyata bukan sebuah penghalang untuk mendapatkan informasi yang Up date. Calang kini bukanlah Calang yang dulu, Calang kini adalah gadis remaja yang sudah menanjak dewasa, sudah mengerti bagai mana pentingnya informasi. Sebagian masyrakat sudah merasakan Internet sudah menjadi suatu kebutuhan untuk akses informasi dan komunikasi. Calang kini bukanlah gadis kecil yang masih lugu, tapi kini menjadi seorang gadis yang optimis akan masa depannya.

“Ini hanya sekelumit catatan kecilku untuk kesan pertamaku di kota calang, Kota yang pernah aku singgahi tiga hari sebelu petaka yang menewaskan ratusan ribu manusia, dan jutaan rumah hancur tak bersisa” (Calang, 24 November 2005) By. Mamad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s